(fastweb.com/uploads/article_photo/photo/2036201/crop635w_what-to-do-when-you-make-the-wait-list.jpg)
lalu terasa menyenangkan bagiku. beberapa bulan yang membuatku berpikir, ah, saatnya aku percaya akan takdir. benar saja, kini aku benar-benar tahu apa itu takdir, sesuatu yang tidak bisa kita pikir dengan nalar dan kita terka dengan hati. sesuatu yang tidak akan berubah hanya karena kita suka.
aku mencoba bangkit dan menjauh dari antrian bodoh yang menjemukan itu. mengeratkan jaketku--berharap dapat menghangatkan hatiku yang dingin. aku keluar dan menghirup udara segar, sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga dadaku. ku lirik sekilas antrian di belakang, lalu aku menjauh. ada rasa sesak yang membuatku sesekali terbatuk. jika waktu bisa terulang, maka sudah ku pastikan aku tidak akan terjebak dalam antrian bodoh itu.
Aku menghabiskan banyak waktuku, hartaku dan harga diriku, untuk sesuatu yang sangat-sangat tak berharga. menjijkan sekali jika menginganya. permainan apa yang sebenarnya aku mainkan? sungguh tidak masuk akal. ingin ku pukul setiap penghalang yang menghalangi jalanku. ku susuri jalan yang dulu sering ku lalui sebelum aku berada di jalur pengantrian itu. Ini jalan yang seharusnya menuntunku pada kebahagiaan yang sesungguhnya. Ya, mungkin saja. sekali lagi, aku tak bisa menentukan takdir hanya karena aku suka. ingin sekali aku berjalan sampai ke ujung jalan ini, namun aku tak sanggup.
bagaimana jika ujung jalan ini bercabang? bagaimana jika ujung jalan ini malah buntu? bagaimana jika ujung jalan yang ku kira tempat yang kosong, ternyata sudah terisi? pertanyaan-pertanyaan itu menggelayuti pikiranku sepanjang jalan.
ku langkahkan kakiku, berbelok ke arah lain. di persimpangan yang belum pernah ku lewati. kali ini aku berusaha untuk tidak mencoba menciptakan takdir. ku ikuti jalanan, sisian dan tepian yang nampak menarik buatku. masalah apa yang ada di ujung jalan ini, aku masa bodoh. setidaknya aku terus bergerak menjauhi jalan-jalan sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar