Rabu, 31 Januari 2018

Hilman dan Tinta Cinta

Aku yang menemanimu dari nol kemudian kau lupakan saat kau menjadi seratus. Lalu logika mana yang harus ku percayai. Bila saat ini aku berdiri disini, menahan luka di hati, berbaris seperti orang lainnya. Mengantri untuk melihatmu di hari pertama menandatangani buku yang kau tulis, yang dalam 1 bulan ini merajai puncak penjualan. 

Kau, si penulis baru yang menggemparkan dunia kepenulisan dengan novelmu yang menggetarkan hati banyak orang. Orang yang sejak beberapa tahun ku kenal. Bukan, bukan hanya kenal. Tapi, kita melengkapi satu sama lain, setidaknya saat itu, saat kau masih menjadi Hilman yang ku kenal. Kini, aku disini, menjadi seseorang yang tak spesial lagi bagimu. Benar bukan? Setelah ini, kau mungkin hanya akan melihatku sebagai ‘fans’. 

Barisan semakin memendek, memperkecil jarak antara aku dan kau. Menyempitkan jarak antara realita dan khayalanku. Jantungku bahkan tak henti berdegup kencang. Ini dia, ini saatnya giliranku. Aku maju beberapa langkah, menyerahkan buku bersampul biru itu di atas meja. Aku menunduk. Dan aku rasa kau sedang menatapku sekarang. Ku dengar kau berdehem sebentar. Kau membuka sampul buku itu. 

“Baiklah. Untuk siapa, nona?”, tanyamu padaku. 

“Naura”, ucapku lirih. Kau tau. Kau tau namaku. Tapi, kau bertanya seolah kita baru bertemu. 

Ku lihat kau menuliskan sesuatu disana. Kau menutupnya dengan perlahan. Menyerahkan kembali padaku, lalu menjulurkan tanganmu untuk berjabat tangan. 

“Senang bertemu Naura disini. Mohon tetap dukung saya daan karya saya berikutnya. Semoga harimu menyenangkan”. 

Hilman tersenyum sambil menjabat tanganku, senyum yang ku rindukan. Tanpa ku sadari aku meneteskan air mata. Hilman melihatku, tapi berpura-pura tak melihat air mataku. Aku berlalu melepas genggaman tangan Hilman, digantikan oleh pengantri selanjutnya. Pengantri lain yang melihatku menangis, pasti mengira bahwa aku terharu karena mendapat tanda tangan Hilman yang mempesona. Padahal, bukan. Hilman, aku rindu. 

Malam hari. 
Malam ini mendung. Tak ada bintang yang nampak di langit. Bahkan bulanpun diselimuti awan. Ku pandangi buku Hilman di meja kerjaku. Aku duduk, lalu mengusap sampulnya. 

Tinta cinta. Judul yang ku usulkan padanya dulu. Aku menangis lagi dan lagi. Rasanya menyesakkan hati. Sungguh, Hilman. Aku harus bagaimana sekarang? Aku merindukanmu. 

Aku buka perlahan sampul itu, seketika aku berhenti menangis. 

Untuk Naura 
Untuk Bee. 
Kita bertemu lagi ya.. 
Maafkan aku bersembunyi darimu. 
Aku memang pengecut. 
Untukmu bacalah halaman 50 kalimat ke 7-8. 

Aku terkejut membacanya. Panggilan itu, kata maaf itu. Aku bergegas membuka halaman 50 dan membaca apa yang tertulis di kalimat ke 7-8. Jujur saja, aku gugup. 

Halaman 50 kalimat ke 7-8 
Bersama seseorang yang mempercayaimu pastilah anugerah yang indah dalam hidupmu, kan? Itulah perasaan baru yang kumiliki sekarang. Rasanya bahagia telah mendapatkan hatinya dan selamanya aku akan mencintainya. 

Selesai.

Ku baca sesuai perintahmu, Hilman. Apa maksudmu? Mengapa setelah membacanya hatiku sakit. Kalimat itu bahkan bertolak belakang dengan keadaan kita saat ini. Aku berfikir dan terus berfikir. 

“Aku akan datang lagi besok. Hilman, apa maksud tulisanmu ini?” 

Pagi Hari. Pukul 09.00. 
Aku datang ke toko buku, membeli buku Hilman lagi. Dua buku sekaligus. Aku mengantri seperti kemarin. Fans-Sign hari kedua. Hanya saja sekarang dengan perasaan yang lebih menggebu. Aku ingin tau apa maksud Hilman dengan tulisannya kemarin. Kali ini, mengapa waktu berjalan lambat sekali. Beberapa kali aku melongok ke depan, memastikan seberapa panjang antrian yang tersisa. Seorang penjaga toko tiba-tiba menghampiriku. 

“Mbak yang kemarin menangis setelah dapat tanda tangan Mas Hilman, kan? Pasti mbak fans berat sampai mengantri lagi”. 
Aku hanya tersenyum canggung. Semua mata tertuju padaku. Aku bisa apa. Akhirnya tinggal 3 antrian lagi. Aku menarik nafas panjang. Hilman, ini karena kamu aku disini lagi. Melihatmu baik-baik saja sejujurnya melegakan. Ku perhatikan ada hal yang tidak asing untukku, Hilman. Kau masih memakai gelang dariku, Hilman. Hilman, Hilman, Hilman. 

Sekarang giliranku. Seperti kemarin, kau menanyakan namaku. Seolah kau tidak ingat bahwa aku kemarin sudah datang. Aku memandangimu yang sedang menulis. Ingin bertanya banyak hal. Tapi jelas, itu tidak mungkin. Aku melihat Hilman membalik beberapa halaman dan menulis sesuatu. Agak lama dibanding sebelumnya 

“Ini dia. Terimakasih sudah datang. Saya harap tetap di sisi saya dan mendukung karya-karya saya. Terimakasih”. 
Bagaimana aku bisa terus disisimu, Hilman? Apa kata-katamu itu tulus? 

Ingin rasanya segera ku baca tulisan di buku itu. Aku penasaran. Tapi ku tahan sampai aku sampai ke rumah, aku tak sanggup. Apa yang kau tulis kali ini, Hilman? 

Satu hari berlalu, dan aku belum membuka buku itu. Kemarin, aku kembali bekerja setelah mengambil cuti. Pekerjaan editing yang kutinggalkan selama seminggu menumpuk dan mengharuskanku bekerja ekstra. Bila dihitung, hari ini berarti hari terakhir Fans-Sign Hilman. Ku letakkan tas kerjaku di kasur. ku raih buku Tinta Cinta dan membacanya di kasur. Inilah saatnya. Ku hela nafasku berkali-kali. Apa ini? 

Hai, Bee. Kau datang lagi. 
Aku lega melihatmu lagi. 
Apa tulisanku yang membawamu? 
Kau ingin tau mengapa aku seperti ini? 
Bacalah halaman 105 kalimat 1-8. 

Aku bergegas membuka halaman yang dimaksud dan membacanya dengan teliti. Aku penasaran tapi juga takut. Takut mengetahui alasan dari sikap Hilman padaku. 

Halaman 105 kalimat 1-8. 
Entah karena aku yang bodoh, aku yang pengecut atau apa. Aku meninggalkannya begitu saja. Gadis yang kuperjuangkan sejak lama, nyatanya lebih pantas bersama orang lain. Gildan, pria itu yang menghampiriku dan mengatakan bahwa aku hanya beban untuk Lina. Aku memang hanya pegawai biasa di kantor, sementara Lina memiliki karir cemerlang. Ku pikir berulang kali itu memang benar, kurasa selama ini aku membebaninya dan Gildan yang lebih pantas untuknya. Jadi, ku putuskan resign dari pekerjaanku dan meninggalkan Lina tanpa penjelasan. Aku cukup sadar diri. 

Selesai ku baca. Memori saat itu terlintas difikiranku. Satu tahun lalu, hari dimana Hilman meninggalkanku. Dan perkataan Gildan yang mengiang ditelingaku. Ya, Gildan. Teman sekantorku. Nama yang sama yang digunakan oleh Hilman di novelnya. 

“Udahlah, Ra. Aku sudah mengatakan padamu sebelumnya. Hilman hanya memanfaatkanmu. Untuk apa? Sudah jelas agar bukunya bisa terbit dengan cepat. Dia gak baik buat kamu”. Kuingat betul perkataan Gildan. 

“Tapi, kami bersama sejak lama. Ini bahkan tak pernah terpikirkan olehku, Dan”. Aku menangis di pundak Gildan. 

Aku menangis lagi mengingatnya. Jadi ini kesalahpahaman. Siapa yang salah disini? Kamu jahat Hilman. Mengapa kamu tak menjelaskan apapun padaku. Dan membiarkan kesalahpahaman ini tumbuh dihatiku. Ku perhatikan lagi, ada catatan kecil di bawah halaman 105. 

Bisakah kita bertemu lagi di Fans-Sign besok? Bee ku. 

Besok? Yang artinya adalah hari ini. Aku segera melihat jam di ponselku. Pukul 17.00. Pastilah acaranya sudah usai. Tapi, ada sedikit harapan dalam hatiku. Semoga kau masih disana Hilman. Aku bergegas menuju toko buku kemarin menggunakan mobilku. Setibanya disana, sudah sepi. Hanya beberapa pegawai yang sedang merapikan perlengkapan Fans-Sign. Aku bertanya pada penjaga toko yang kemarin menyapaku. 

“Maaf, mbak!” 

“Oh, mbaknya yang kemarin”, kata si mbak penjaga toko. 

“Iya, apa acaranya sudah selesai? Sejak jam berapa?”, tanyaku hati-hati. 

“Sudah selesai dari jam 3 sore tadi. Mbak telat datangnya. Mungkin sekarang mas Hilmannya sudah di bandara, mbak”, kata si mbak penjaga toko. 

“Bandara? Hilman mau pergi kemana, mbak?”, tanyaku penuh harap. 

“Tadi, sih. Sesuai yang saya dengar dari mas Hilman saat Fans-Sign. Dia mendapat beasiswa kuliah S2 Sastra di Inggris, mbak. Keren banget kan mbak? Mas Hilman itu gak cu……”. Belum selesai si mbak penjaga toko berceloteh. Aku segera meninggalkan toko buku itu. 

Bandara, oke bandara. Bila benar, maka penerbangan malam terdekat sekitar 1,5 jam lagi. Aku menembus kepadatan kota Jogja dengan kecepatan tinggi. 

Setibanya di bandara, aku melihat sekeliling. Berusaha menemukan sosok Hilman. Panik, aku panik. Tidak ketemu, apa Hilman sudah terbang dengan penerbangan sore? Aku terduduk dan menangis. Tersedu-sedu. Sampai-sampai tak ku hiraukan orang-orang yang melihatku. Hingga seorang satpam menghampiriku. 

“Bu, maaf. Ada apa ya? Kenapa ibu menangis disini, maaf bu, mohon tidak bersikap seperti ini disini bu. Sebaiknya ibu menenangkan diri di sebelah sana”, kata Pak Satpam padaku. 

“Ibu? Ibu? Kamu pikir saya sudah ibu-ibu? Apa saya nampak seperti perempuan yang sudah memiliki anak? Hilmaaaan!”, aku semakin menangis, terasa semakin menyedihkan. Aku melipat kakiku, menundukkan kepalaku disana. Terus menangis. 

“Ibu. Sebaiknya segera bangun dan tidak mempermalukan diri ibu seperti ini!” 

“Ya, Tuhan. Sudah ku bilang, aku bukan ibu-ibu!”. 

Aku mendongakkan kepalaku dengan ekspresi yang entah sudah sekacau apa. Senyum itu. Senyum yang ku kenal. Dan sosok itu, yang kucari sedari tadi. 

“Hilman?”, kataku lirih. Dia tersenyum geli, meraih tanganku. 

Dan disinilah kami, berakhir duduk di kursi tunggu bandara. Saling berpandangan. Ku lihat seorang pria nampak gusar di dekat Hilman. Hilman melihat kearah pandanganku. Lalu berkata kepada pria itu, bahwa dia membatalkan penerbangan malam ini dan menggantinya dengan penerbangan esok hari. 

“Tapi, bukan seperti itu rencananya. Kita harusnya….”, ucapan pria itu terhenti. 

“Tidak, kita hanya mengganti jam terbang saja. Bukan membatalkan rencana kita di Inggris. Aku ingin menjelaskan sesuatu kepada wanita dihadapanku saat ini. Bahwa aku pengecut dan merasa tidak pantas selama ini bersamanya. Melihat keberaniaanya menemuiku kemarin sampai dua kali. Membuatku menyadari sesuatu. Bahwa, mungkin ini adalah kesempatan kedua yang akhirnya ku dapatkan”, ucap Hilman. 

Mata kami saling bertemu. Hilman lalu menyodorkan bukunya dan mengatakan padaku untuk membuka halaman 200. Itu adalah sebuah kutipan singkat. 

“Dan bila, aku dilahirkan lagi dan lagi. Yang aku inginkan adalah satu kesempatan untuk menjadi pria yang lebih berani untuknya. Untuk mengakui perasaanku. Pria yang lebih berani untuk mempertahankan apa yang harus ku pertahankan. Bila kesempatan semacam itu datang pada ku. Akan aku pastikan bahwa aku tak akan menyia-nyiakannya dan menjaganya untuk diriku” 

Aku selesai membacanya. Ku tatap Hilman sekali lagi. Wajah yang ku rindukan dan sempat ku benci. Wajahnya yang sekarang sedikit brewok. Tampan. 

“Kenapa tak sejak dulu kita akhiri kesalahpahaman kita? Harusnya kita bahagia sekarang, kan?”, aku mengucapkan sesuatu akhirnya. Hilman menggelengkan kepalanya, lalu menggenggam tanganku. 

“Tidak. Ku rasa ini adalah waktu yang tepat. Aku berhasil membuktikan pada semua orang. Bahwa aku pria yang bisa diandalkan, yang nanti bisa kau andalkan dengan usahaku sendiri. Jika boleh sombong. Aku yang sekarang lebih pantas bersamamu, kan? Ya, itu jika kau mau mengabulkan kutipan terakhirku dibuku itu. Itu untukmu, Naura. My bee. Si bawel”, kata Hilman. Sedetik kemudian aku tertawa terharu.

Aku kabulkan harapanmu Hilman. Kau memelukku dengan hangat. Ah, aku menyayangimu. Sangat. 
Dalam pelukannya aku berfikir. Bagaimanapun juga dia tetap harus pergi kan? Tapi setidaknya dia pergi dengan penjelasan dan kepastian untukku kali ini. Dan kami melalui malam berdua. Oh, bukan, tapi bertiga dengan pria yang akhirnya ku tau bernama Markus. Berjalan-jalan, makan malam bersama dan bercerita banyak hal. 

“Ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita tentukan. Salah satunya adalah bagaimana dan dengan siapa kau akan menghabiskan sisa hidupmu. Tapi, bila kamu yakin untuknya. Ku rasa Tuhan akan mempertimbangkan untuk menjodohkanmu dengannya”. 

Kutipan terakhir di buku Hilman dan Tinta Cintanya. 
-SEKIAN- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar