Rabu, 24 Januari 2018

Cerpen: Elena Si Gadis Lamunan

Dia Elena si gadis ceria yang mempunyai satu keunikan. Dia mampu melihat lamunan seseorang. Keunikan yang mungkin menakutkan bagi remaja seusia dia. Namun, baginya itu menakjubkan. Matanya berwarna biru tua, mampu menangkap gambaran lamunan seseorang. Dia sering menuangkan lamunan seseorang ke dalam bentuk lukisan. Hanya lamunan yang indah yang akan Elena lukis.

Meskipun begitu, ada beberapa tipe orang yang tidak bisa ia lihat lamunannya, yaitu kakek-nenek, serta balita. Ia melihatnya hanya dalam bentuk warna, bukan gambaran bentuk. Siang itu, sepulang sekolah Elena membantu ibunya berjualan kue di kedai kecil mereka. Saat menata kue, dia melihat seorng bocah laki-laki seumurannya berdiri menatap ke toko. Tampak melamun, namun Elena tidak melihat gambaran apapun di atas kepala bocah itu.
Elena keluar hendak menyapa, namun bocah laki-laki itu langsung pergi. Aneh sekali, aku tak melihat gambaran apapun di atas kepalanya. Gumam Elena. Dia melanjutkan pekerjaanya di kedai kue. Hal yang sama terulang kembali hari berikutnya. Kali ini si bocah laki-laki itu tidak kabur seperti kemarin. Elena menghampiri bocah itu. Elena menatap ke arah atas kepala si bocah. Begitupun bocah laki-laki itu. Mereka menyadari arah mata masing-masing.
“Oh, Ya ampun. Apa mungkin kau juga….”, Elena tercengang.
Bocah itu seakan mengetahui maksud Elena lalu mengangguk berkali-kali. Fakta baru yang sama-sama mereka temukan. Bahwa selain tidak bisa melihat gambar lamunan dari kakek, nenek dan balita. Mereka juga tidak bisa melihat gambar lamunan orang yang memiliki keunikan sama.
“Aku Peter”, kenal bocah itu. “Aku Elena”, timpal balik Elena.
Mereka berjabat tangan dan tersenyum senang, seolah telah menemukan saudara yang hilang. Elena mengajak Peter masuk kedai dan memperkenalkan Peter ke Ibunya. Peter menatap ibunya Elena yang bernama Lily, sebentar lalu menunduk. Elena langsung menarik tangan Peter untuk duduk di kursi kedai.
“Jadi, apa yang kau lakukan dengan penglihatanmu selama ini?”, tanya Peter.
Elena bercerita bahwa ia menuangkannya dalam bentuk lukisan, lamunan orang-orang itu sangat unik, terkadang tak beraturan. Peter mengangkat wajahnya, menatap Elena. Elena bertanya balik pada Peter.
“Pasti menyenangkan. Kalau aku akan merasa kesakitan kalau aku menatap lamunan seseorang terlalu lama. Ku hitung paling lama 10 detik, itupun sudah membuatku pusing. Jadi jangan heran kalau aku menunduk di depan ibumu tadi”, jelas Peter yang membuat Elena kaget. Elena secara sepontan mengatakan bahwa Peter boleh bebas menatap Elena kapanpun, karena Peter tidak akan melihat lamunannya. Sehingga Peter tak perlu takut pusing. Peter tersenyum. Peter menyantap sepotong roti dari Elena, setelahnya ia pamit pulang.
            Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Begitulah pertemanan antara Peter dan Elena terjalin. Semenjak mengenal Elena, Peter menjadi lebih hidup. Dia bisa merasakan betapa menyenangkannya berbicara pada seseorang dan menatapnya begitu lama. Mereka sering pergi bersama, menghabiskan waktu di bukit atau di sungai hanya untuk sekedar bercerita tentang hal-hal yang mereka lalui selama seharian. Elena juga sering memberikan hasil lukisannya kepada Peter.
Jantung Peter berdegup kencang melihat Elena yang sedang bermain air di sungai. Semakin berdegup saat melihat senyum Elena. Bukan degupan jantung biasanya. Tanpa sadar Peter mulai membayangkan bisa menghabiskan waktu bersama Elena selamanya. Dia bergumam kecil bahwa dia menyukai Elena.
Elena memperhatikan Peter yang memejamkan mata sembari tersenyum. Tiba-tiba ia melihat ada bayangan di atas kepala Peter, seketika Elena menjerit kesakitan. Peter tersadar dari lamunannya, menarik Elena ke tepi sungai dan bertanya pada Elena.
“Ada apa? Elena?”, tanya Peter panik.
“Aku. Aku melihat bayangan dari lamunanmu! Peter apa yang terjadi, kepalaku sakit”, Elena mulai menangis. Peter pun tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.
Keesokannya, Peter datang ke kedai kue Elena. Ibunya Elena langsung keluar menemui Peter. Ibu Lily mengatakan pada Peter untuk tidak lagi menemui Elena, ia juga memberikan secarik surat.
“Berikan itu pada ayahmu, Pet. Jika benar, maka ayahmu pasti akan tau maksud pesan ini”, kata Ibu Lily, lalu menyuruh Peter pergi.
Peter kembali ke rumahnya dan menemui ayahnya. Ia mengatakan bahwa ada surat dari Ibu Lily, ibu dari Elena. Pak Tristan tercengang mendengar nama Lily. Jika benar itu Lily yang ia kenal, berarti sudah 20 tahun sejak mereka memutuskan untuk tidak saling bertemu. Pak Tristan segera membaca isi surat itu. Benar, seperti yang ia duga. Ia paham maksud surat itu. Pak Tristan mengelus kepala anaknya dengan lembut.
Pak Tristan mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Begitupun di sisi lain, Ibu Lily juga sedang menjelaskan hal yang sama pada Elena. Pak Tristan dan Ibu Lily dulu juga memiliki penglihatan yang anak mereka miliki. Gejala yang sama yang mereka rasakan. Tapi, karena Elena tak pernah bercerita pada Ibunya mengenai kondisi Peter, maka ia membiarkan anaknya bermain dengan Peter. Begitupun Peter, ia bahkan sama sekali tak pernah bercerita mengenai Elena. Kedua orang tua mereka menyarankan mereka untuk tidak lagi saling bertemu.
“Karena kau mulai menyukai, Elena. Itulah yang membuat kepala Elena sakit. Ia mulai melihat lamunanmu dan itu berbahaya. Itu yang ayah alami 20 tahun yang lalu. Hanya saja saat itu ayahlah yang mengalami kesakitan itu. Saat Ibu Lily diam-diam menyukai ayah, begitupun sebaliknya dan keadaan menjadi semakin parah”, jelas sang ayah yang membuat Peter tak habis pikir. Situasi yang sama juga dialami Elena, setelah mendengar penjelasan ibunya.
“Akhirnya kami memutuskan untuk saling menjauh. 4 tahun kemudian saat usia ibu 20tahun. Penglihatan ibu menghilang dan Ibu kehilangan komunikasi dengan Ayahnya Peter. Sampai hal ini terjadi sekarang. Kami tetap memutuskan untuk hidup masing-masing”, jelas Ibu Lily sedikit sedih.
Peter dan Elena nampak murung, sedih dan tidak percaya. Pak Tristan memutuskan untuk pindah lebih jauh lagi dari desa tempat Elena tinggal untuk mencegah situasi yang mungkin lebih buruk lagi.
Hari-hari berlalu, Elena masih mampu melihat gambaran lamunan orang-orang. Terkadang ia berharap melihat Peter datang ke kedainya lagi. Tapi, hal itu tak pernah terjadi. Elena mulai terbiasa menjalani hari-harinya seperti dulu sebelum bertemu Peter. Ia masih suka melukis lamunan orang dan beberapa ada yang ia jual.
Pada akhirnya mereka menyadari bahwa setiap cinta selalu mengandung pengorbanan. Meskipun setiap pengorbanan tidak selalu berakhir dengan perasaan yang utuh. Jika tidak mampu diperjuangkan dengan usaha, maka cukup serahkan pada waktu.

-SEKIAN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar