Dia Elena si
gadis ceria yang mempunyai satu keunikan. Dia mampu melihat lamunan seseorang.
Keunikan yang mungkin menakutkan bagi remaja seusia dia. Namun, baginya itu
menakjubkan. Matanya berwarna biru tua, mampu menangkap gambaran lamunan
seseorang. Dia sering menuangkan lamunan seseorang ke dalam bentuk lukisan.
Hanya lamunan yang indah yang akan Elena lukis.
Meskipun begitu,
ada beberapa tipe orang yang tidak bisa ia lihat lamunannya, yaitu kakek-nenek,
serta balita. Ia melihatnya hanya dalam bentuk warna, bukan gambaran bentuk.
Siang itu, sepulang sekolah Elena membantu ibunya berjualan kue di kedai kecil
mereka. Saat menata kue, dia melihat seorng bocah laki-laki seumurannya berdiri
menatap ke toko. Tampak melamun, namun Elena tidak melihat gambaran apapun di
atas kepala bocah itu.
Elena keluar
hendak menyapa, namun bocah laki-laki itu langsung pergi. Aneh sekali, aku tak melihat gambaran apapun di atas kepalanya. Gumam
Elena. Dia melanjutkan pekerjaanya di kedai kue. Hal yang sama terulang kembali
hari berikutnya. Kali ini si bocah laki-laki itu tidak kabur seperti kemarin. Elena
menghampiri bocah itu. Elena menatap ke arah atas kepala si bocah. Begitupun
bocah laki-laki itu. Mereka menyadari arah mata masing-masing.
“Oh, Ya ampun.
Apa mungkin kau juga….”, Elena tercengang.
Bocah itu seakan
mengetahui maksud Elena lalu mengangguk berkali-kali. Fakta baru yang sama-sama
mereka temukan. Bahwa selain tidak bisa melihat gambar lamunan dari kakek,
nenek dan balita. Mereka juga tidak bisa melihat gambar lamunan orang yang
memiliki keunikan sama.
“Aku Peter”,
kenal bocah itu. “Aku Elena”, timpal balik Elena.
Mereka berjabat
tangan dan tersenyum senang, seolah telah menemukan saudara yang hilang. Elena
mengajak Peter masuk kedai dan memperkenalkan Peter ke Ibunya. Peter menatap
ibunya Elena yang bernama Lily, sebentar lalu menunduk. Elena langsung menarik
tangan Peter untuk duduk di kursi kedai.
“Jadi, apa yang
kau lakukan dengan penglihatanmu selama ini?”, tanya Peter.
Elena bercerita
bahwa ia menuangkannya dalam bentuk lukisan, lamunan orang-orang itu sangat
unik, terkadang tak beraturan. Peter mengangkat wajahnya, menatap Elena. Elena
bertanya balik pada Peter.
“Pasti
menyenangkan. Kalau aku akan merasa kesakitan kalau aku menatap lamunan
seseorang terlalu lama. Ku hitung paling lama 10 detik, itupun sudah membuatku
pusing. Jadi jangan heran kalau aku menunduk di depan ibumu tadi”, jelas Peter
yang membuat Elena kaget. Elena secara sepontan mengatakan bahwa Peter boleh
bebas menatap Elena kapanpun, karena Peter tidak akan melihat lamunannya.
Sehingga Peter tak perlu takut pusing. Peter tersenyum. Peter menyantap
sepotong roti dari Elena, setelahnya ia pamit pulang.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti
tahun. Begitulah pertemanan antara Peter dan Elena terjalin. Semenjak mengenal
Elena, Peter menjadi lebih hidup. Dia bisa merasakan betapa menyenangkannya
berbicara pada seseorang dan menatapnya begitu lama. Mereka sering pergi
bersama, menghabiskan waktu di bukit atau di sungai hanya untuk sekedar
bercerita tentang hal-hal yang mereka lalui selama seharian. Elena juga sering
memberikan hasil lukisannya kepada Peter.
Jantung Peter
berdegup kencang melihat Elena yang sedang bermain air di sungai. Semakin
berdegup saat melihat senyum Elena. Bukan degupan jantung biasanya. Tanpa sadar
Peter mulai membayangkan bisa menghabiskan waktu bersama Elena selamanya. Dia
bergumam kecil bahwa dia menyukai Elena.
Elena
memperhatikan Peter yang memejamkan mata sembari tersenyum. Tiba-tiba ia
melihat ada bayangan di atas kepala Peter, seketika Elena menjerit kesakitan.
Peter tersadar dari lamunannya, menarik Elena ke tepi sungai dan bertanya pada
Elena.
“Ada apa? Elena?”, tanya
Peter panik.
“Aku. Aku melihat bayangan
dari lamunanmu! Peter apa yang terjadi, kepalaku sakit”, Elena mulai menangis.
Peter pun tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mereka memutuskan untuk
kembali ke rumah.
Keesokannya,
Peter datang ke kedai kue Elena. Ibunya Elena langsung keluar menemui Peter.
Ibu Lily mengatakan pada Peter untuk tidak lagi menemui Elena, ia juga
memberikan secarik surat.
“Berikan itu
pada ayahmu, Pet. Jika benar, maka ayahmu pasti akan tau maksud pesan ini”,
kata Ibu Lily, lalu menyuruh Peter pergi.
Peter kembali ke
rumahnya dan menemui ayahnya. Ia mengatakan bahwa ada surat dari Ibu Lily, ibu
dari Elena. Pak Tristan tercengang mendengar nama Lily. Jika benar itu Lily
yang ia kenal, berarti sudah 20 tahun sejak mereka memutuskan untuk tidak
saling bertemu. Pak Tristan segera membaca isi surat itu. Benar, seperti yang
ia duga. Ia paham maksud surat itu. Pak Tristan mengelus kepala anaknya dengan
lembut.
Pak Tristan
mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Begitupun di sisi lain, Ibu
Lily juga sedang menjelaskan hal yang sama pada Elena. Pak Tristan dan Ibu Lily
dulu juga memiliki penglihatan yang anak mereka miliki. Gejala yang sama yang
mereka rasakan. Tapi, karena Elena tak pernah bercerita pada Ibunya mengenai
kondisi Peter, maka ia membiarkan anaknya bermain dengan Peter. Begitupun
Peter, ia bahkan sama sekali tak pernah bercerita mengenai Elena. Kedua orang
tua mereka menyarankan mereka untuk tidak lagi saling bertemu.
“Karena kau
mulai menyukai, Elena. Itulah yang membuat kepala Elena sakit. Ia mulai melihat
lamunanmu dan itu berbahaya. Itu yang ayah alami 20 tahun yang lalu. Hanya saja
saat itu ayahlah yang mengalami kesakitan itu. Saat Ibu Lily diam-diam menyukai
ayah, begitupun sebaliknya dan keadaan menjadi semakin parah”, jelas sang ayah
yang membuat Peter tak habis pikir. Situasi yang sama juga dialami Elena,
setelah mendengar penjelasan ibunya.
“Akhirnya kami
memutuskan untuk saling menjauh. 4 tahun kemudian saat usia ibu 20tahun.
Penglihatan ibu menghilang dan Ibu kehilangan komunikasi dengan Ayahnya Peter. Sampai
hal ini terjadi sekarang. Kami tetap memutuskan untuk hidup masing-masing”,
jelas Ibu Lily sedikit sedih.
Peter dan Elena
nampak murung, sedih dan tidak percaya. Pak Tristan memutuskan untuk pindah
lebih jauh lagi dari desa tempat Elena tinggal untuk mencegah situasi yang
mungkin lebih buruk lagi.
Hari-hari
berlalu, Elena masih mampu melihat gambaran lamunan orang-orang. Terkadang ia
berharap melihat Peter datang ke kedainya lagi. Tapi, hal itu tak pernah
terjadi. Elena mulai terbiasa menjalani hari-harinya seperti dulu sebelum
bertemu Peter. Ia masih suka melukis lamunan orang dan beberapa ada yang ia
jual.
Pada akhirnya
mereka menyadari bahwa setiap cinta selalu mengandung pengorbanan. Meskipun
setiap pengorbanan tidak selalu berakhir dengan perasaan yang utuh. Jika tidak
mampu diperjuangkan dengan usaha, maka cukup serahkan pada waktu.
-SEKIAN-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar